Friday, May 10, 2013

MOTIVASI



A.    Motivasi
1.      Pengertian Motivasi
Istilah motivasi sebenarnya banyak dipakai dalam bidang dan situasi tapi dalam uraian ini akan lebih diarahkan pada bidang pendidikan khususnya dalam bidang pembelajaran. Motivasi merupakan istilah yang lebih umum digunakan berpangkal dari kata ”motif” yang berarti gerakan atau sesuatu yang yang bergerak.[1]
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia motivasi diartikan antara lain sebagai berikut:
a.       Dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
b.      Usaha yang dapat menyatakan seseorang atau kelompok orang tertentu bergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.[2]
Menurut keterangan di atas motivasi merupakan pendorong atau suatu energi yang terdapat dalam diri seseorang yang menakibatkan seseorang tersebut mau bertindak. Dengan kata lain, motivasi adalah suatu keadaan dalam diri seseorang yang mendorong melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan.
Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif diartikan sebagai daya sebagai penggerak dari dalam dan didalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak.[3]
Oleh karena itu, Motivasi merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia karena motivasi ini membuat manusia melakukan sesuatu yang bermanfaat dan berguna untuk masa depan seseorang individu. Dengan kata lain, tujuan hidup akan mempunyai arti yaitu suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut istilah motivasi dirumuskan oleh para ahli antara lain sebagai berikut:
a.      Menurut Thomast M Risk yang dikutip oleh Rohani, motivasi adalah usaha yang dilakukan oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada peserta didik untuk menunjang ke arah tujuan belajar.[4]
b.      Moh. Uzer Usman mendefenisikan motivasi adalah Suatu proses menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.[5]
c.      Silder mendefinisikan motivasi sebagai hasrat, keiginan, dan minat yang timbul dari seseorang dan langsung ditunjukkan kepada suatu objek.[6]
d.     M.Utsman Najati menyatakan motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu.[7]
e.      Alex Sobur menyatakan motivasi adalah membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, atau menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau tujuan.[8]
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan diatas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak, hasrat, keinginan, maksud, kemauan, kebutuhan dan sebagainya yang terdapat dalam diri seseorang atau siswa. Motivasi dapat mendorong dan menggerakkan siswa tersebut dalam kegiatan belajar sebagai suatu tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Motivasi akan timbul jika ada ada sesuatu tujuan yang dicapai, semakin jelas tujuan yang diharapkan maka semakin menyebabkan adanya perubahan tenaga yang ada dalam diri dan aktif pada saat tertentu terutama jika kebutuhan untuk mencapai tujuan yanhg sangat mendesak, motivasi juga dapat dikatakan serangkaian usaha menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu dan bila ia tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengalahkan perasaan tidak suka.
Jika dihubungkan dengan pengertian motivasi sebagai faktor yang menyebabkan seseorang memulai dan melaksanakan aktivitas dengan baik dan penuh ketekunan, maka Islam juga mengisyaratkan agar umatnya dalam melakukan aktifitas adalah penuh tanggung jawab termasuk dalam proses belajar, hal ini terlihat dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Zalzalah ayat 7-8
فَََمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ  خَيْرًايَرَهُ, وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةِشَرًّا يَرَهُ,
Artinya: ”Barang siapa  yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.[9]

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan  bahwa pada hari kiamat nanti manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam yaitu terdiri dari beberapa  golongan, macam dan tingkatan dalam hal mendapatkan kemalangan dan kebahagiaan, supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjan mereka. Yaitu bila baik maka akan dibalas dengan kebaikan, dan bila buruk maka akan dibalas dengan keburukan. Adapun yang menceritakan amalan manusia itu  adalah bumi.[10]
Sedangkan di dalam tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa di sanalah mereka masing-masing menyadari bahwa semua diperlakukan secara adil, maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah yakni butir debu sekalipun, kapan dan dimanapun niscaya akan melihatnya. Dan demikian pula sebaliknya barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji zarrah sekalipun, niscaya akan melihatnya pula.[11]
Berdasarkan penjelasan ayat dan tafsir  di atas mengisyaratkan kepada umat dalam hal meningkatkan aktivitas dengan penuh hati-hati dan tanggung jawab. Motivasi juga sekaligus dapat mendorong atau memotivasi umat untuk selalu berbuat aktivitas yang baik karena setiap aktivitas yang baik akan dibalas dengan kebaikan.
2.                 Macam-macam Motivasi
Dalam melaksanakan sesuatu kegiatan seseorang telah menyimpan keinginan dalam dirinya atau melakukan suatu kegiatan. Ada bermacam-macam motivasi atau dorongan yang membuat orang melakukan berbagai kegiatan, motivasi atau dorongan tersebut sangat bervariasi sesuai dengan keiginannya.
Menurut Abu Ahmadi dalam buku ”Psikologi Sosial” menjelaskan tentang macam-macam motif yakni:
a.      Motif Biognesis yaitu motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme orang demi kelanjutan hidupnya secara biologis
b.      Motif Sosiogenesis yaitu motif yang dipelajari orang dan berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang
c.      Motif Teogenesis yaitu interaksi antara manusia dengan tuhan seperti yang nyata dalam ibadahnya dan dalam kehidupannya sehari-hari dimana ia berusaha merealisasikan norma-norma agama tertentu.[12]
Sedangkan menurut Abraham Maslow sebagaimana yang dikutip oleh Nana Saodih Sukmadinata membagi keseluruhan motif yang mendorong perbuatan individu atas lima kategori yang membentuk suatu hirarki atau tangga dari yang rendah ke yang lebih tinggi, yaitu:
a.        Motif fisiologi yaitu dorongan-dorongan untuk memenuhi kebutuhan jasmani seperti kebutuhan akan makan, minum, bernafas dan bergerak.
b.        Motif Pengamanan yaitu dorongan-dorongan untuk menjaga melindungi diri dari gangguan baik gangguan alam, binatang, iklim maupun penilaian manusia.
c.        Motif Persaudaraan yaitu dan kasih sayang yaitu motif untuk membina hubungan baik, kasih sayang , persaudaraan baik dengan jenis kelamin yang sama maupun berbeda.
d.       Motif harga diri yaitu untuk mendapatkan pengenalan, pengakuan, penghargaan dan penghormatan dari orang lain, ingin mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari orang lain.
e.        Motif Aktualisasi diri yaitu manusia memiliki potensi dan kodratnya, ini perlu perlu diaktualisasikan dan dinyatakan dalam berbagai bentuk dan sifat. Kemampuan dan kecakapan nyata melalui berbagai bentuk upaya belajar dan pengalaman individu berusaha mengaktualisasikan semua potensi yang dimilikinya.[13]

 Menurut Zakiyah Darajdat, motivasi dibagi menjadi dua jenis yaitu motivasi dalam diri (instrinsik) dan motivasi di luar diri (ekstrinsik).[14] Dari berbagai bentuk motivasi sebelumnya, bentuk motivasi instrinsik dan ekstrinsik adalah yang paling umum dan banyak dikaji  dalam dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran.
a.       Motivasi Instrinsik
Motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya karena ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya.[15]

Motivasi Instrinsik menurut Purwanto adalah ”motivasi yang timbul dari dalam diri siswa itu sendiri”.[16] Seseorang yang memiliki intelegensi yang cukup tinggi boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Siswa yang mempunyai motivasi dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukannya sehari-hari seperti yang diungkapkan oleh Sardiman A.M, yaitu:
1)      Tekun menghadapi tugas
2)      Ulet dalam menghadapi kesulitan
3)      Menunjukkan minat terhadap berbagai macam masalah.
4)      Lebih senang kerja sendiri
5)      Cepat bosan terhadap tugas-tugas yang bersifat rutin.[17]

Apabila seseorang memiliki ciri-ciri di atas berarti seseorang itu telah memiliki motivasi yang kuat. Motivasi seperti itu sangat penting dalam proses belajar mengajar. Siswa akan berhasil baik apabila siswa tersebut tekun dalam mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan masalah-masalah dan hambatan lainnya secara mandiri.
Dalam hal ini Akyas Azhari mengemukakan bahwa yang menimbulkan motivasi  instrinsik sebagai berikut:
1)      Adanya kebutuhan
2)      Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri
3)      Adanya cita-cita (aspirasi).[18]
Peserta didik memiliki motivasi instrinsik cenderung akan menjadi orang yang terdidik yang berpengetahuan yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu, gemar belajar adalah aktivitas yang tak pernah sepi dari kegiatan peserta didik yang mempunyai motivasi intrinsik dalam rangka meraih ilmu pengetahuan. Belajar biasanya dikonotasikan dengan membaca, membaca adalah pintu gerbang menuju kelautan ilmu pengetahuan, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Alaq ayat 1-5:[19]
اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ, خَلَقَ اْلإِ نْسنَ مِنْ عَلَقٍ, اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلاَكْرَمُ, الَّذِيْ عَلَّمَ بِا لْقَلَمِ, عَلَمَ اْلإِنْسنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Dalam tafsir al-Maraghi dijelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar bisa membaca tersebut diulang-ulang, sebab membaca tidak akan bisa meresap ke dalam jiwa, melainkan setelah dilakukan berulang-ulang dan dibiasakan. Berulang-ulang perintah Allah SWT berpengertian sama dengan berulang-ulangnya membaca. Dengan demikian maka membaca itu merupakan bakat dari nabi Muhammad SAW.[20]

Sedangkan dalam tafsir Al-Azhar dijelaskan bahwa nabi bukanorang yang pandai, beliau adalah ummi yang boleh dikatakan buta huruf, tetapi Jibril mendesaknya juga sampai tiga kali supaya dia membaca meskipun dia tidak pandai menulis, namun ayat itu akan dibacakan juga oleh Jibril kepadanya, sehingga dia dapat menghapal di luar kepala. Dengan sebab itu, akan dapatlah ia membaca Allah SWT yang menciptakan semuanya.[21]
Dengan demikian dapat dipahami bahwa perintah untuk membaca dalam ayat di atas adalah suatu kalimat nyata yang menunjukkan bahwa manusia disuruh mempelajari semua pengetahuan yang ada di alam ini. Jadi, apabila umat Islam konsisten dengan ajaran ayat tersebut, maka itu dapat menjadi motivasi baginya untuk belajar. Selain itu Islam juga memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang berilmu yaitu diangkat derajatnya.
b.      Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah dorongan dari luar diri, tindakan atau perbuatan yang didasari oleh dorongan-dorongan yang bersumber dari luar pribadi seseorang (lingkungan) untuk melakukan sesuatu karena adanya paksaan dari luar.[22] Jenis motivasi ini timbul akibat sebagai akibat pengaruh individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar.[23]
Motivasi ekstrinsik  juga merupakan ”hal atau keadaan yang datang dari luar diri individu yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar”.[24] Berdasarkan keterangan di atas Motivasi Ekstrinsik merupakan motivasi belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya, motivasi ekstrinsik bukan berarti yang tidak diperlukan agar peserta didik mau belajar. Berbagai macam cara bisa dilakukan agar peserta didik termotivasi untuk belajar, guru yang berhasil dalam mengajar adalah guru yang pandai membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam berbagai bentuknya.
Dengan demikian dalam proses pembelajaran motivasi instrinsik dan ekstrinsik sangat diperlukan sebagaimana menurut pendapat Thomburhg mengatakan bahwa antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik ini saling menambah atau memperkuat, bahkan motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi intrinsik.[25] Dengan demikian keduanya sama-sama berfungsi sebagai pendorong manusia untuk berperilaku sempurna berdasarkan nilai religius agama Islam sebagai penuntun arah perbuatan manusia dan sebagai penuntun apa yang harus dikerjakan oleh manusia.
3.      Fungsi Motivasi dalam Belajar
Motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan pembelajaran. Motivasi berfungsi sebagai pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu.
Ditinjau dari segi proses motivasi menurut Ramayulis berfungsi:
1.      Memberi semangat dan mengaktifkan murid agar tetap berminat dan siaga
2.      Memusatkan perhatian anak pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian belajar dan
3.      Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang.[26]
Jadi, dalam kegiatan belajar motivasi sangat diperlukan karena motivasi berfungsi sebagai pendorong yang dapat melahirkan kegiatan bagi peserta didik. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar akan bersemangat untuk menyelesaikan suatu kegiatan sebaliknya peserta didik yang kurang mempunyai motivasi belajar terhadap suatu pelajaran menjadi pangkal penyebab peserta didik tidak tertarik untuk melakukan suatu aktivitas untuk belajar dengan demikian guru harus menimbulkan gairah belajar peserta didik dengan menggunakan motivasi ekstrinsik sehingga dengan bantuan tersebut peserta didik akan keluar dari kesulitan belajar yang dialaminya.
Dalam belajar sangat diperlukan adanya motivasi, karena hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan maka makin berhasil pula pelajaran itu sehingga tujuan dari pembelajaran mudah dicapai.
Dengan demikian motivasi merupakan faktor yang sangat penting dalam belajar sebagaimana dijelaskan oleh Crow and Crow dalam bukunya ”Education Psikology” yang diterjemahkan oleh Kasijan, yaitu sebagai berikut:
1.      Motivasi memberi semangat seorang pelajar dalam kegiatan-kegiatan belajarnya
2.      Motivasi-motivasi perbuatan sebagai pemilih dari tipe-tipe kegiatan-kegiatan dimana seseorang berkeinginan untuk melakukannya
3.      Motivasi memberi petunjuk pada tingkah laku.[27]

Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi yaitu sebagai berikut:
a.       Motivasi mendorong manusia untuk berbuat
b.      Motivasi menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai
c.       Motivasi sebagai penyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat.[28]
Selanjutnya Martinis Yamin mengatakan fungsi motivasi adalah:
1.      Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar.
2.      Motivasi berfungsi sebagai pengarah artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.
3.      Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Artinya besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu pekerjaan.[29]
Dari pendapat para ahli yang menjelaskan tentang fungsi motivasi tersebut dapat dipahami bahwa motivasi mempunyai arti yang sangat penting bagi seseorang atau peserta didik yakni sebagai pendorong timbulnya suatu aktivitas penggerak dan sebagai penyeleksi untuk melakukan suatu pekerjaan. Jika motivasi dalam belajar itu baik  maka akan melahirkan hasil belajar yang baik pula dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi peserta didik.
Seorang guru bertanggung jawab untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan maksimal supaya mendapat hasil yang baik, keberhasilan itu tentu tergantung pada upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didiknya. Untuk dapat membangkitkan motivasi peserta didik diperlukan keahlian, maka seorang guru harus terus dapat membangkitkan motivasi peserta didiknya dengan cara dan waktu serta kondisi yang tepat.                 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru bertanggung jawab atas peserta didiknya untuk membimbing, mengarahkan dan memotivasi dalam belajar agar peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik karena tugas guru bukan hanya menginformasikan materi pelajaran tapi juga bertugas memperbaiki kekuatan mental dan psikis siswa dalam belajar seperti memotivasi belajar siswa. Motivasi merupakan penggerak bagi peserta didik untuk melakukan aktifitas belajar. Untuk menarik perhatian dan minat siswa, guru harus dapat menggunakan berbagai cara seperti:
1)      Cara belajar yang baik
2)      Alat peraga yang cukup
3)      Interaksi yang tepat dan humor
4)      Mungkin juga dengan menggunakan contoh yang tepat
5)      Performance guru yang menarik.[30]
Jadi untuk menarik perhatian siswa dalam belajar  guru harus menggunakan cara belajar yang baik, menggunakan alat peraga, menggunakan contoh yang tepat yang mudah diketahui dan dimengerti oleh siswa dan performen seorang guru pun juga mutlak diperlukan demi menunjang proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
4.       Bentuk-bentuk Motivasi
Bentuk-bentuk motivasi  ada bermacam-macam dalam hal ini guru harus berhati-hati dalam menumbuhan dan memberikan motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Ada beberapa bentuk untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, antara lain:
1.      Memberi Angka
Banyak anak-anak belajar semata-mata untuk mencapai atau mendapatkan angka yang baik, dengan belajar segiat giatnya. Angka yang baik bagi mereka merupakan motivasi dalam kegiatan belajarnya.[31] Angka dalam hal ini adalah simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Angka-angka yang baik juga bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat.[32]
Jika dilihat dari pernyataan di atas, pemberian angka oleh guru merupakan suatu bentuk motivasi bagi siswa untuk belajar. jadi, dalam hal memberikan angka guru haruslah berhati-hati. Artinya guru harus menilai siswa secara objektif. Jangan sampai karena ada permasalahan pribadi dengan siswa, guru seenaknya memberikan angka yang jelek kepada siswa tersebut, padahal dalam kegiatan pembelajaran siswa yang bersangkutan mempunyai kemampuan yang baik.
2.      Hadiah
Pemberian hadiah ada pengruhnya terhadap motivasi belajar siswa. Hadiah dapat berupa barang tertentu, tetapi harus diwaspadai agar jangan sampai hadiah menjadi tujuan belajar.[33]
Pemberian hadiah oleh guru kepada siswa yang berprestasi merupakan motivasi tersendiri untuk meningkatkan prestasinysa. Sedangkan bagi siswa yang lain juga akan membangkitkan motivasi mereka untuk belajar dengan harapan mendapat hadiah sebagaiana temannya itu. Akan tetapi, pemberian hadiah oleh guru hendaknya tidak semata-mata hanya sampai di situ, melainkan guru juga harus mengiringinya dengan nasehat-nasehat yang baik bahwa sebenarnya belajar itu bukan untuk hadiah. Akan tetapi untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta dapat mengamalkannya.
Hadiah memang dapat membangkitkan motivasi apabila setiap orang mempunyai harapan untuk mencapainya.[34] Jadi, keuletan guru dalam membangkitkan motivasi anak melalui hadiah sangat diperlukan.
3.      Saingan atau Kompetisi
Persaingan sering mempertinggi hasil belajar, baik itu persaingan individual maupun kelompok. Akan tetapi, persaingan banyak kelemahannya  karena cenderung menimbulkan persaingan yang tidak sehat yang lebih menonjolkan kepentingan perorangan, mendorong superioritas dan dampak lainnya.[35]

Dengan demikian saingan atau kompetisi ini dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan sering digunakan sebagai alat untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi di lapangan industri, perdagangan dan juga di sekolah.
4.      Ego-Involvement
Menumbuhkan kesadaran pada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan dengan mempertaruhkan harga dirinya. Kegagalan akan berarti berkurangnya harga diri.[36] Jadi, ego-Involvement ini merupakan salah satu bentuk motivasi yang baik dalam proses belajar mengajar, karena seorang siswa akan berusaha segenap tenaganya untuk mencapai hasil maksimal guna menjaga harga dirinya.
5.      Memberi Ulangan
Seorang siswa akan lebih giat belajar apabila akan diadakan ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Akan tetapi yang perlau diingat oleh guru adalah jangan terlalu sering mengadakan ulanga karena akan membosankan siswa. Kemudian yang lebih penting adalah setiap akan diadakan ulangan guru terlebih dahulu harus memberitahukan kepada siswa.
6.      Mengetahui Hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7.      Pujian
Pujian akibat pekerjaan yang diselesaikan dengan baik merupakan motivasi yang baik Pujian dapat ditunjukkan baik secara verbal maupun secara non verbal. Dalam bentuk verbal misalnya anggukan kepala, senyuman, atau tepukan bahu.[37] Supaya pujian menjadi sebuah motivasi maka pemberiannya harus tepat. Demikian juga pujian yang tepat dapat mengakibatkan siswa mempunyai sikap yang positif dari pada guru selalu mengkritik dan mencela.[38] Oleh karena itu, guru harus memberikan pujian yang tepat karena dengan adanya pujian yang tepat maka akan membangkitkan gairah belajar siswa.


8.      Hukuman
Hukuman merupakan bentuk reinforcement yang negatif, tetapi kalau diberikan dengan tepat dan bijak dapat menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus paham tentang prinsip-prinsip pemberian hukuman.
Asma Hasan Fahmi yang dikutip oleh Ramayulis menjelaskan tentang ciri-ciri hukuman dalam perspektif pendidikan Islam, antara lain:
1.      Hukuman diberikan untuk memperoleh perbaikan dan pengarahan
2.      Memberikan kesempatan kepada anak untuk memperbaiki kesalahannya sebelum dipukul, dan kalaupun dipukul tidak boleh lebih dari tiga kali
3.      Pendidik harus tegas dalam melaksanakan hukuman, artinya apabila sikap keraspendidik telah dianggap perlu maka harus dilaksanakan  dan diutamakan sikap kasih sayang.[39]
Jadi, seorang guru memberikan hukuman kepada siswanya agar memperoleh perbaikan dari kesalahan yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, guru harus tegas dalam memberikan hukuman. Tegas bukan berarti dengan pukulan, tetapi dengan cara penuh rasa kasih sayang terhadap siswanya dan pemberian hukuman itu hendaknya bersifat positif dan mendidik.
9.      Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.[40]  Minat sangat erat hubungannya dengan motivasi. Motivasi akan muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga dengan minat. Proses belajar mengajar akan berjalan dengan lancar jika disertai dengan minat. Minat juga sangat besar pengaruhnya terhadap belajar. Karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya.
Ada beberapa cara dalam membangkitkan minat, yaitu:
a.       Bangkitkan suatu kebutuhan.
b.      Hubungkan dengan pengalaman lampau.
c.       Beri kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, artinya bahan pelajaran disesuaikan dengan kesanggupan individu.
d.      Gunakan berbagai bentuk mengajar, seperti diskusi, kerja kelompok dan sebagainya.[41]

Dengan adanya cara untuk membangkitkan minat tersebut di atas guru dapat memanfaatkannya sebagai alat motivasi. Untuk menggunakan suatu cara di atas seorang guru  juga harus memperhatikan situasi dan kondisi siswa.
10.  Hasrat untuk Belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hasrat untuk belajar pada diri anak berarti mereka mempunyai motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik. Oleh karena itu, seorang guru harus bisa mendorong atau membangkitkan semangat siswa agar siswa mempunyai hasrat yang tinggi untuk melaksanakan proses pembelajaran.
11.  Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting, sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar.[42]

Motivasi selalu mempunyai tujuan, kalau tujuan itu berarti bagi anak, ia akan berusaha untuk mencapainya. Guru harus berusaha agar anak-anak jelas mengetahui tujuan setiap pelajaran. Tujuan yang menarik bagi anak merupakan motivasi yang terbaik.
Dengan adanya bentuk-bentuk motivasi tersebut di atas diharapkan guru dapat memanfaatkan beberapa cara tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Demikian juga untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, guru perlu melakukan hal-hal sebagai berukut:
1.      Memperjelas tujuan yang yang ingin dicapai siswa, dengan tujuan yang jelas membuat siswa paham ke arah mana ia ingin di bawa
2.      Membangkitkan minat siswa dengan cara menghubungkan bahan pelajaran  yang diajarkan dengan kebutuhan siswa dan sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman
3.      Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran dengan mengusahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup, segar, terbebas dari rasa tegang
4.      Berilah pujian yang wajar terhadap keberhasilan siswa
5.      Berilah penilaian
6.      Berikan komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, dengan cara memberikan penghargaan dan komentar yang positif setelah siswa selesai menyelesaikan tugasnya
7.      Ciptakan persaingan dan kerja sama. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. [43] 

Berdasarkan pendapat pakar di atas menurut penulis memperjelas tujuan yang ingin dicapai kepada siswa merupakan hal yang paling utama dilakukan oleh guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Demikian juga seorang guru harus dapat membangkitkan minat siswa agar termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran. Oleh karena itu, guru dapat menggunakan cara-cara di atas untuk menumbuhkan motivasi siswa belajar.
Gagne juga menyarankan juga sejumlah cara meningkatkan motivasi siswa, tanpa harus melakukan reorganisasi kelas secara besar-besaran, di antaranya:
1.      Pergunakan pujian verbal. Kata-kata seperti bagus, baik, pekerjaan yang baik, yang diucapkan segera setelah siswa melakukan tingkah laku yang diinginkan merupakan pembangkit motivasi yang besar
2.      Pergunakan tes dalam nilai secara bijaksana
3.      Bangkitkan rasa ingin tahu siswa dan keinginanya untuk mengadakan eksplorasi
4.      Untuk tetap mendapatkan perhatian, sekali-kali guru dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, seperti meminta siswa menyusun soal-soal tes dan sebagainya
5.      Merangsang hasrat siswa dengan jalan memberikan pada siswa sedikit contoh hadiah yang akan diterimanya bila berusaha untuk belajar
6.      Agar siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, maka pergunakan materi-materi yang sudah dikenal sebagai contoh.
7.      Minta pada siswa untuk mempergunakan hal-hal yang sudah dipelajari sebelumnya
8.      Pergunakan simulasi dan permainan
9.      Perkecil konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan dari keterlibatan siswa, seperti ketidaknyamanan fisik
10.  Pengajar atau guru perlu memahami dan mengawasi suasana sosial di lingkungan sekolah
11.  Pengajar perlu memahami hubungan kekuasaan antara guru dan siswa. Seseorang akan dapat mempengruhi motivasi orang lain bila memiliki sesuatu bentuk kekuasaan sosial. [44]

Dari keterangan di atas guru  dapat menggunakan cara-cara di atas untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Karena seorang guru harus dapat membangkitkan gairah belajar siswa, menjadikan siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi, bersemangat dan bersungguh-sungguh, serta kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
5.        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Dalam dunia pendidikan motivasi belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Karena ”motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu”.[45] Oleh karena itu, motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik. Dimyati dan Mujiono dalam bukunya belajar dan pembelajaran mengemukakan beberapa faktor yang mempengruhi motivasi belajar, yaitu:
1.      Cita-cita dan Aspirasi Anak
Anak yang terpenuhi keinginannya dapat memperbesar kemauan dan semangat belajarnya. Sebagai contoh, cita-cita ingin menjadi pemain bola dunia, maka ia akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajarnya serta anak akan rajin berolah raga, berlari, tekun berlatih dengan jadwal yang ditentukan.
2.      Kemampuan Anak
Keinginan anak perlu dibarengi dengan kemapuan atau kecakapan. Untuk mencapainya karena tanpa adanya kemampuan maka tujuan yang ingin di capai tidak akan tercapai.
3.      Kondisi Anak
Kondisi anak yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajarnya. Seorang anak yang sedang sakit, lapar atau marah marah akan mengganggu perhatiannya dalam belajar.
4.      Kondisi Lingkungan Anak
Lingkungan anak berarti segala sesuatu yang berada di luar diri pribadi anak. Lingkungan ini dapat berupa keluarga, keadaan alam, tempat tinggal dan masyarakat.
5.      Unsur-unsur Dinamis dalam Kehidupan
Maksud unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur seperti perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup, misalnya pergaulan dengan teman sebaya, anggota keluarga, lingkungan anak yang sering mengalami perubahan turut mempengaruhi belajar anak.[46]
Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah:
a.       Faktor yang berasal dari luar diri pelajar diantaranya:
1.      Faktor non sosial, seperti keadaan udara, cuaca, tempat, alat yang dipakai untuk belajar.
2.      Faktor sosial yaitu faktor yang berkaitan dengan manusia dengan manusia lain di suatu kelompok masyarakat tertentu.
b.      Faktor yang berasal dari dalam diri pelajar diantaranya:
1.      Faktor fisiologis yaitu keadaan jasmani dan keadaan fungsi jasmani itu sendiri.
2.      Faktor psikologis seperti adanya sifat ingin tahu, mendapatkan simpati dari orang lain dan sebagainya.[47]
Berdasarkan penjelasan di atas seorang guru harus memperhatikan faktor-faktor yang mempegaruhi motivasi siswa dalam belajar karena faktor-faktor di atas sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa seperti faktor lingkungan. Lingkungan sangat besar sekali pengaruhnya terhadap motivasi belajar anak. Oleh karena itu, Guru harus berusaha mengontrol siswanya baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas.
6.           Hubungan Motivasi dengan Belajar
Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar  peran guru sangat penting. Guru harus dapat melakukan usaha-usaha untuk dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi agar anak didiknya melakukan aktivitas belajar dengan baik.  Karena menurut para ahli pendidikan dan psikologi berpendapat bahwa faktor yang sangat mempengaruhi dalam belajar adalah motivasi.[48] Jadi Memberikan motivasi kepada siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan subjek belajar merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar.
Menurut Morgan dan ditulis kembali oleh S. Nasution manusia hidup dengan memiliki berbagai kebutuhan, diantaranya:
a.       Kebutuhan untuk berbuat sesuatu demi kegiatan itu sendiri.
b.      Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain.
c.       Kebutuhan untuk mencapai hasil.
d.      Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan.[49]
Berdasarkan pendapat ahli di atas peranan motivasi sangat penting dalam upaya menciptakan kondisi-kondisi tertentu yang lebih kondusif bagi mereka untuk berusaha agar memperoleh keunggulan. Menurut ahli ilmu jiwa dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hirarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya diantaranya sebagai berikut:
1)      Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
2)      Kebutuhan akan keamanan yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
3)      Kebutuhan akan cinta dan kasih, diterima dalam masyarakat atau golongan (keluarga, sekolah, kelompok-kelompok).
4)      Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan pembentukan pribadi.[50]
Dengan adanya kebutuhan kebutuhan siswa di atas guru harus menghadapi tantangan untuk membangkitkan motivasi siswa, membangkitkan minatnya, menarik dan mempertahankan perhatiannya, mengusahakan agar siswa mau mempelajari materi-materi yang  dipelajarinya. Jadi, ”motivasi mempunyai peranan yang sangat besar dalam upaya belajar agama Islam tanpa motivasi mungkin siswa kurang semangat untuk  mengikuti kegiatan belajar”.[51] Mengingat demikian pentingnya motivasi bagi siswa dalam belajar, maka guru diharapkan dapat membangkitkan motivasi belajar siswanya dan menciptakan kondisi-kondisi tertentu yang dapat membangkitkan motivasi belajar.
Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru, bagi siswa motivasi  penting untuk:
a.       Membangkitkan, meningkatkan dan memelihara semangat siswa untuk belajar
b.      Mengarahkan kegiatan belajar
c.       Menyadarkan tentang adanya pengalaman belajar dan kemudian bekerja.[52]
Oleh karena itu, motivasi juga penting diketahui oleh guru. Pengetahuan dan pengalaman tentang motivasi belajar para siswa  bermanfaat juga bagi  guru, adapun manfaat itu adalah:
a.       Membangkitkan, meningkatkan dan memelihara semangat guru untuk mengajar.
b.      Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam ragam, ada yang acuh tak acuh, ada yang tak memusatkan perhatiannnya ada yang bermain di samping yang bersemangat untuk belajar. Dengan beragamnya motivasi tersebut, maka guru dapat menggunakan bermacam-macam  strategi dalam mengajar.
c.       Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasehat, fasilitator, instruktor, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah. Peran  paedagogis tersebut sudah barang tentu sesuai dengan perilaku siswa.
d.      Memberi peluang bagi guru”unjuk bekerja” rekayasa paedagogis.[53]
Dari beberapa keterangan di atas motivasi guru dan siswa yang dilakukan dalam proses belajar sebaik apapun gedung sekolah dibangun, tenaga pengajar yang disediakan, lengkapnya alat belajar dan lain  sebagainya, tidak akan ada artinya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan jika motivasi guru dan siswa tidak ada. Untuk itu baik motivasi yang bersumber dari guru maupun dari siswa sangat diperlukan


[1] Departemaen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 756
[2] Ibid, h. 42

[3] Sardiman A. M, Op. Cit., h. 73
[4] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 10
[5] Moh. Uzer Usman, Op,Cit., h. 28-29
[6] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 33
[7] Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Prespektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 132
[8] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), h. 208
[9] Departemen Agama RI, Op. Cit., h. 480
[10] Muhammad Nasib Ar-Rifai, Kemudahan dari Allah (Ringkasan Tafsir Ibn Katsir), Terj. Syihabbuddin, (Jakarta: Gema Insani, 1999), h. 1026
[11] M. Quraish Shihab, Op. Cit., h. 453
[12] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999),  h. 192
[13] Nana Saodih Sukmadinata, Landasan Psikologi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 68

[14] Zakiyah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 142
[15] Sardiman A.M, Op. Cit., h. 88-89
[16] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 75
[17] Sardiman A.M, Op. Cit., h. 82-83
[18] Akyas Azhari, Psikologi, ( Semarang: Dina Utama,1996), h. 75
[19] Deparetemen Agama RI, Op. Cit., h. 480
[20]   Ahmad Tafsir Al-Maraghi, Op. Cit., h.347
[21]   Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Panji Mas,1985), Cet ke-3, h. 3
                [22] Sudarsono, Kamus Filsafat dan Psikologi, (Jakarta: Rineka Cipta,1999), h. 161
[23] Chalijah Hasan, Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1994), h. 145
                [24] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 137
[25] Elida Prayitno, Motivasi dalam Belajar, (Jakarta: Depdikbud Dirjen P2LPTK, 1989), h. 14
                [26] Dirjen Binbaga Islam, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama Islam/IAIN, 1985), h. 105
              [27] Kasijan, Psikologi Pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984),  h. 359-360
              [28] Sardiman A.M, Op. Cit., h. 84-85
        [29] Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, (Jakarta: Gaung Persada, 2007), h. 21
       [30] Ramayulis, Op. Cit., h. 63
[31] M. Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), h. 10
[32] Sardiman A.M, Op. Cit., h. 91
[33] Oemar Hamalik,  Kurikulum  dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), h. 120
[34] Ibid, h. 92
[35] Oemar Hamalik, Op. Cit., h. 120
[36] S. Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995, h. 80
[37] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002), h. 185
[38] Slameto,  Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 96
[39] Ramayulis, Pengantar Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 189
[40] Slameto, Op. Cit., h. 51
[41] S. Nasution, Op. Cit., h. 79
[42] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Asdi Mahsatya, 2002), h. 125
[43] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), h. 28
[44] Slameto, Op. Cit., h. 177-179
[45] Noehi Nasution, Materi Pokok Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud, 1993), h. 8
[46] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 97
[47] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 233


[48] Hasbullah Thabrani, Rahasia Sukses Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 30
[49] S. Nasution, Op. Cit., h. 77-78
[50] Sardiman A. M, Op. Cit., h. 80
[51] Ibrahim dan Nana Saodih, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 28
[52] Dimyati dan Mujiono, Op. Cit., h, 85
[53]Ibid,  h. 87

2 comments: