Friday, May 10, 2013

AKHLAK



A.    Akhlak
1.      Pengertian Akhlak
Secara etimologi, kata akhlak berasal dari bahasa arab ( اخلاق ) dalam bentuk jama’, sedangkan mufradnya adalah khuluq ( خلق  ) yang artinya budi pekerti, perangai atau tingkah laku. Akhlak menurut bahasa berarti budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, atau segala seseuatu yang menjadi tabiat. Budi pekerti dalam bahsa Indonesia merupakan kata majemuk dari kata budi dan pekerti yang berarti, kata budi berasal dari bahsa sansekerta yang berarti sadar, sedangkan pekerti berasal dari bahasa Indonesia yang berarti kelakuan.[1] “Budi pekerti merupakan perilaku yang didasari oleh kesadaran berbuat baik yang didorong oleh keinginan hati dan selaras dengan pertimbangan akal”.[2]
Secara etimologi beberapa ahli menedefenisikan akhlak dengan redaksi yang berbeda, diantaranya adalah:
a.       Al-Ghazali, akhlak adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa yang darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan terlebih dahulu.[3]
b.      Zakiah Drajat menjelaskan bahwa akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan yang menyatu.[4]
c.       Ibnu Maskawaih, sebagaiman yang telah dikutip sidik tono, “khluq ialah gerakan jiwa yang mendorong kea rah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pemikiran.[5]
d.      Yatimin Abdullah, suatu kondisi atau sifat yang sudah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian. Dari sini timbulah berbagai macam perbuatan dengan spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran.[6]
Dari beberapa pendapat di atas bahwa yang dikatakan akhlak adalah gambaran jiwa yang menyebabkan terjadinya tingkah laku atau perbuatan, sehingga berakhlak-tidaknya seseorang dapat dilihat dari tingkah laku atau perbuatannya. Oleh sebab itu tingkah laku atau perbuatan seseorang merupakan cerminan jiwanya.
Jika iman dapat diibaratkan sebuah pohon, ibadah merupakan batang ranting dan daunya, maka akhlak adalah buahnya.[7] Dengan kata lain iman yang kuat akan termanifestasi oleh ibadah yang teratur yang kemudian akan membuahkan akhlakul karimah. Orang yang memiliki akhlak yang baik dalam melakukan sesuatu selalu menyeimbangkan anatara tiga kekuatan yang ada dalam dirinya, yaitu kekuatan berfikir, kekuatan hawa nafsu, dan amarah. Hal ini diperkuat bahwa “akhlak karimah atau biasa juga disebut dengan akhlak islami yakni perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah-daging dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam.[8]
Perbuatan-perbuatan manusia dapat dianggap sebagai manifestasi dari akhlaknya, apabila dipenuhi dua syarat, yaitu :
1)      Perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan.
2)      Perbuatan-perbuatan itu dilakukan karena dorongan emosi-emosi jiwanya, bukan karena adanya tekanan-tekanan yang dari luar, seperti paksaan dari orang lain yang menimbulkan ketakutan, atau bujukan dengan harapan-harapan yang indah-indah, dan lain sebagainya.[9]
Dengan demikian akhlak karimah ialah perbuatan yang berdasrkan pada Al-Qur’an dan perilaku Rasulullah Saw yang menjadi uswatun hasanah bagi seluruh manusia. Manusia haruslah berakhlak baik karena akhlak seseorang tercermin dari kepribadiannya. Baik atau buruknya seseorang dilihat dari akhlaknya. Maksudnya apabila seseorang berakhlak baik maka tingkah laku dan perilakunya akan baik pula.
2.      Macam-macam Akhlak
Secara garis besar akhlak dibagi kepada dua macam, yaitu akhlak mahmumah dan akhlak mazmumah. Akhlak mahmumah adalah segala tingkah laku yang terpuji yang biasa dinamakan fadilah (keutamaan), yang berarti sesuatu yang memberikan kemenangan. Akhlak mazmumah adalah tingkah laku, tabiat, pernagai tercela yang dapat mendatangkan kehancuran baik terhadap diri sendir maupun masyarakat.[10]
Akhlak mahmumah meliputi setia, pemaaf, benar, menepati janji, memelihara kesucian diri, malu, kasih sayang, pemberani, kuat, sabar, murah hati, damai, persaudaraan, silaturahmi, menghormati tamu, merendahkan diri, menundukkan diri kepada Allah Swt, berbuat baik, berbudi tinggi, memelihara kebersihan badan, selalu cendrung kepada kebaikan, merasa cukup dengan apa yang ada, tenang dan lemah lembut.
Akhlak mazmumah adalah egois, kikir, dusta, meminum khamar, khianat, aniaya, pengecut, amarah, curang dan culas, mengumpat, adu domba, menipu, dengki, dusta, berbuat kerusakan, sombong, mengingkari nikmat, homoseksual, berzina, membunuh, makan riba, ingin dipuji, berolok-olok, mencuri dan mengikuti hawa nafsu, boros, serta tergesa-gesa.
Yunanhar Ilyas dalam bukunya kuliah akhlak mengemukakan bahwa pembahasan mengenai akhlak meliputi:
a.       Akhlak terhadap Allah Swt, terdiri dari:
1)      Taqwa
2)      Cinta dan ridha
3)      Ikhlas
4)      Khauf dan raja’
5)      Tawakal
6)      Syukur
7)      Muraqabah
8)      Taubat
b.      Akhlak terhadap Rasulullah, terdiri dari:
1)      Mencintai dan memuliakan Rasul
2)      Mengikuti dan menaati Rasul
3)      Mengucapkan shalawat dan salam
c.       Akhlak peribadi, terdiri dari:
1)      Shiddiq
2)      Amanah
3)      Mujahadah
4)      Syaja’ah
5)      Tawadhu’
6)      Istiqomah
7)      Iffah
8)      Malu
9)      Sabar
10)  Pemaaf
d.      Akhlak dalam keluarga, terdiri dari:
1)      Birrul walidain
2)      Hak, kewajiban, dan kasih sayang suami istri
3)      Kasih sayang dan tanggung jawab orang tua terhadap anak
4)      Silaturahmi dengan karib kerabat
e.       Akhlak bemasyarakat, terdiri dari:
1)      Bertamu dan menerima tamu
2)      Hubungan baik dengan tetangga
3)      Hubungan baik dengan masyarakat
4)      Pergaulan muda mudi
5)      Ukhwah islamiyah
f.       Akhlak bernegara, terdiri dari:
1)      Musyawarah
2)      Menegakkan keadilan
3)      Amar makruf nahi munkar
4)      Hubungan pemimpin dan yang dipimpin.[11]
Baik dan buruk dalam pendidikan etika memperlihatkan bahwa pada perbuatan manusia, ukuran karakternya selalu dinamis dan sulit dipecahkan. Kenyataan yang ada di dalam kehidupan, bahwa ada perbedaan dalam melihat baik dan buruk. Namun, karakter baik dan buruk perbuatan manusia dapat diukur menurut fitrah manusia.
Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa akhlak tidak terlepas dari usaha membedakan perbuatan baik dan perbuatan buruk serta menemukan perbuatan baik pada dir manusia sehingga manusi amampu mengikuti aturan Allah Swt dan nilai-nilai yang terdapat dalam suatu masyarakat dianggap baik apabila sesuai dengan Al-Qur’an sunna Nabi Muhammad Saw. Oleh sebab itu dalam pendidikan akhlak perlu juga membahas hal-hal yang seharusnya diperbuat dan ditinggalkan.
3.      Dasar-dasar Pendidikan Akhlak
Dasar pendidikan akhlak dalam Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Kedua sumber pokok ini merupakan rujukan dari seluruk aktivitas ajaran Islam, terutama pendidikan dan pembinaan terhadap remaja sebagai salah satu aspek ajaran Islam yang harus disandarkan kepada keduanya. Rasululla Saw bersabda:
عن ما لك أن  رسو ل الله صلى الله عليه و سلم قا ل تر كت فيكم أ مر ين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتا ب الله و سنة نبيه ( رواه امام مالك بن انس )
Artinya :
Dari malik Rasulullah Saw bersabda: “Aku tinggalkan untukmu dua perkara ttidaklah kamu akan sesat selamanya. Jika kamu berpegang teguh kepada keduanya yaitu kitabullah dan sunnah Nabi”. (H.R. Imam Malik bin Anas).

Al-Ghazali berpendapat sebagaiman dikutip oleh Ismail Tahib bahwa dijadikan dasar pengukuran itu adalah Al-Qura’an al-Karim, Sunnah Rasulullah Saw dan akal (ijtihad).[12] Landasan utama dari pendidikan akhlak adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-maslahah al-mursalah, istihsan, dan qiyas.[13]
Al-Quran banyak mengupas tentang masalah akhlak, mengingat betapa pentingnya unsur akhlak dalam kehidupan manusia, maka tidak kurang dari 467 ayat dalam berbagai surat Al-Qur’an yang mengupas akhlak.[14] Diantaranya akhlak kepada orang tua, Q.S. al-Israa’ ayat 23:
4Ó|Ós%ur y7/u žwr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8yYÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ
Artinya : Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.[15]
               Akhlak dalam berbicara, Q.S. al-Ahzab ayat 70:

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#qä9qè%ur Zwöqs% #YƒÏy ÇÐÉÈ
Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar.
 Akhlak pergaulan antara laki-laki dan perempuan, Q.S. an-Nur ayat 30:

@è% šúüÏZÏB÷sßJù=Ïj9 (#qÒäótƒ ô`ÏB ôMÏd̍»|Áö/r& (#qÝàxÿøtsur óOßgy_rãèù 4 y7Ï9ºsŒ 4s1ør& öNçlm; 3 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqãèoYóÁtƒ ÇÌÉÈ   
Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Akhlak dalam bertamu, Q.S. an-Nur ayat 27:

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qè=äzôs? $·?qãç/ uŽöxî öNà6Ï?qãç/ 4_®Lym (#qÝ¡ÎSù'tGó¡n@ (#qßJÏk=|¡è@ur #n?tã $ygÎ=÷dr& 4 öNä3Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 öNä3ª=yès9 šcr㍩.xs? ÇËÐÈ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan   rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.

Rasulullah Saw juga menjelaskan bahwa untuk menentukan seorang mukmin yang mulia akan tercermin melalui akhlaknya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
عن ابي هريرة رضي هلله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : افضل المؤ منين ايما نا احسا نهم حلق ( رواه الدارمي )

Artinya: Dari abi Hurairah r.a berkata: Rasulullah Saw bersabda: Seutama-tama orang mukmin adalah orang mukmin yang baik akhlaknya. (H.R Abd-Darimi).[16]

Dari uraian diatas, bahwa dasar utama pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw, sedangkan akal berfungsi menjakau operasional dari konsep pendidikan didalam sumber utama.
4.      Faktor Yang Mempengaruhi Akhlak
Manusia diciptakan oleh Allah Swt dengan sebaik-baik bentuk, sekaligus merupakan makhluk yang paling istimewa jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah terletak pada akal budinya. Di samping itu manusi juga mempunyai perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya, seperti kecerdasan akalnya, tanggung jawabnya dan ilmu pengetahuannya, serta kesanggupan manusia dalam meneliti dan memahami sesuatu.
Perbedaan dan kelakuan yang berbeda-beda itu pada prinsipnya ditentukan dan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu:
a.         Faktor dari dalam (interen) yakni, naluri (insting) atau fitrah  yang dibawa sejak lahir. Faktor dari dalam yaitu:
1)        Insting
Yaitu suatu sifat yang pertama membentuk akhlak dann tidak dapat dibiarkan begitu saja bahkan harus dididik dan diasuh karena setiap kelakuan atau perbuatan manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri instingnya. Naluri merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir yang merupakan suatu pembawaan, sesuai  dengan hadis Nabi Saw:
عن انس : قا ل رسو ل الله صلى الله عليه و سلم : كل مولد يولد على الفطرة فأبواه  يهودانه او ينصرانه اويمجسانه  ( رواه البخارى )
Artinya: “Dari anas : Rasulullah Saw bersabda: setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (jiwanya), maka ibu bapaknya yang menjadikan anaknya tersebut  Yahudi, Majusi, dan Nasrani”. (H.R. al-Bukhary).

Berdasarkan hadis di atas dapat diketahui bahwa manusia pada dasrnya berada dalam keadaan fitrah, orang tualah yang berperan sebagai pengasuh utama dan yang bertanggung jawab terhadap akidah dan akhlak anak agar memiliki sifat dan kepribadian yang mulia.
2)        Keturunan (wirotsah)
Manusia adalah akibat dari adanya keturunan. Dari keturnan akan lahir anak-anak yang mempunyai orang tua bahkan nenek moyang yang sudah ada jauh sebelum mereka lahir, dari sini timbullah adanya warisan itu.
انتقال الخصاءص من الاصول الى الفروع هو ما يسمى بالوراثة

Artinya: “Berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua)  kepada cabang (anak keturunan) itu dinamakan wirotsah”.[17]

Manusia mendapatkan fisik dan mental mulai dari sifat-sifat umum kepada siafat-sifat khusus, kadang-kadang anak-anak mewarisi sebagian besar sifat orang tuanya. Sifat yang diturunkan orang tua pada anaknya bukan sifat yang dimiliki yang tumbuh dengan matang karena pengaruh lingkungan, adat dan pendidikan melainkan sifat-sifat yang dibawa sejak lahir.
Sifat yang bisa diturunkan kepada anak secara garis besar ada dua macam, yaitu:
a)   Sifat jasmaniah yakni kekuatan dan kelemahan otot dan utar saraf stau bentuk fisik dapat diwariskan kepada anak. Orang tua yang memiliki tubuh yang tinggi akan mewariskan tubuh yang tinggi pada anak atau cucunya
b)   Sifat rohaniah yakni lemah atau kuatnya suatu naluri, dapat mempengaruhi tingkah laku anak, seperti orang tua yang memeiliki kecerdasan, kesabaran dan keuletan dapat diturunkan pada anak cucunya.[18]
Secara langsung atau tidak langsung, ketrunan sangat mempengaruhi bentuk sikap dan tingkah laku seorang anak yang merupakan pantulan sifat-sifat asasi oarang tuanya.
3)        Adat/kebiasaan
Adat/ kebiasaan adalah ssetiap tindakan dan tingkah laku sesorang yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Seperti berpakaian, makan, tidur, olah raga, dan sebagainya.
العمال اذا تكرار حتى صار الاتبان سهلا سمى عا دة
Artinya: “Perbuatan manusia apbila dikerjakan berulang-ulang sehingga menjadi mudah melakukannya itu dinamakan adat kebiasaan”.[19]
Ada beberapa cara untuk mengetahui kebiasaan baik-buruk yang dapat ditangkap gejala-gejalanya sebagai berikut:
a)        Metoe mnegatasi kebiasaan. Para filsuf di dunia timur menjelaskan kebaiasaan ialah kesinambungan sebuah pikiran atau tindakan untuk waktu yang lama, menyebabkan lekukan alur atau kanal yang terbentuk pada otak tindakannya menjadi sadar otomatis, kemauannya selalu timbul untuk mengulangi perbuatan yang telah menjadi kebiasaan. Misalnya ketika seorang mulai merokok ia masih memikirkan tentang menyalakan korek api kemudian kemudian ia menylakan lagi tampa berfikir lagi dan ini menjadi kebiasaan. Untuk menghentikan kebiasaan yang pertama harus menghancurkan kebiasaan buruk itu apapun resikonya.
b)        Kekuatan kebiasaan, adat kebiasaan itu mempunyai kekuatan yang mendekati kepada kebiasaan yang pertama, kebiasaan yang pertama, kebiasaan yang pertama ialah kebiasaann yang dibawa manusia sejak lahir. Kebiasaan dapat memberi bagi pekerjaan sifat, jalan yang tertentu dalam pikiran keyakinan, keinginan dan percakapan. Kebiasaan kekuatan ialah yang menjadikan orang-orang tua menolak pendapat-pendapat baru dan penemuan-penemuan baru.
c)        Mengubah kebiasaan dapat dilakukan dengan cara memperhatikan pola terbaik, disesuaikan dengan unsur-unsur agama.[20]
Untuk mengubah kebiasaan dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
1)      Berniat dengan sungguh-sunguh dengan tidak diiringi dengan keragu-raguan.
2)      Janganlah mengizinkan diri sendir melakukan kebiasaan buruk, apalagi menambah kebiasaan buruk yang lainnya.
3)      Carilah waktu yang baik untuk men-tahfidz-kan niat dan ikutilah segala gerak jiwa yang membantu tahfidz tersebut. Kesukaran bukan dalam niat, tetapi dalam men-tahfidz-kannya.
4)      Jagalah pada diri kekuatan penolak dan pelihara agar hidup dalam jiwa dalam menddermakan perbuatan yang kecil-kecil setiap hari untuk mengekang hawa nafsu yang tidak baik.[21]
b.         Faktor dari luar (eksteren), misalnya pengaruh lingkungan, pendidikan dan latihan.[22]
Lingkungan ruang lingkup luar yang berinteraksi dengan yang berinterakasi dengan manusia yang dapat berwujud benda-benda seperti air, udara, bimi langit, dan matahari. Berbentuh selain insan seperti peribadi, kelompok, institusi, sistem, undang-undang dan adat kebiasaan. Lingkungan dapat memainkan peranan dan pendorong terhadap perkembangan kecerdasan. Sehingga manusia dapat mencapai taraf setinggi-tingginya dan sebaliknya juga dapat merupakan penghambat atau penyekat perkembangan, sehingga seseorang dapat mengambil manfaat dari kecerdasan tang diwarisi.
Lingkungan termasuk faktor pembentuk akhlak seseorang. Baik buruknya lingkungan akan mempengaruhi tingkah laku manusia. apabila manusia berada pada lingkungan yang baik, maka ia akan menjadi manusia yang baik. Sebaliknya, manusi ayang hidup dilingkungan tidak baik kemungkinan dia akan menjadai manusi ayang tidak baik. Timbulnya peerbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan moral disebabkan karena pengaruh lingkungan yang tidak menguntungkana bagi perkemabangan pribadinya.
Lingkungan ada dua jenis, yaitu:
1)        Llingkungan Alam
Alam ialah seluruh yang ada di bumi selain Allah. Alam dapat menjadi aspek yang mempengaruhi tingkah laku manusia. lingkungan alam dapat menghalangi bakat seseorang. Namun alam juga dapat mendukung untuk meraih prestasi. Sebagai contoh masyarakat yang tinggal di gunng dan hutan, mereka akan hidup sebagai petani dan pemburu yang berpindah-pindah.
2)        Lingkungan Pergaulan
Lingkungan ini mengandung susunan pergaulan yang meliputi manusia seperti di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dan kantor pemerinnthan. Lingkungan pergaulan dapat mengubah keyakinan, akal, pikiran, adat istiadat, pengetahuan, dan akhlak. Dapat dikatakan bahwa lingkungan pergaulan dapt membuahkan kamajuan dan kemunduran hidup manusia. dabalam masa kemundurannya, manusia lebih bnyak dipengaruhi oleh lingkungan alam. Lingkungan pergaulanlah yang banyak membentuk kemajuan pikiran dan kemajuan teknologi, namun juga dapat menjadi prilaku baik dan buruk.[23]
Disini penulis menyebutkan beberapa faktor lingkungan pergaulan yang mempengaruhi akhlak seseorang, antara lain:
1)   Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan satuan sosial terkecil dalam kehidupan manusia yang merupakan nit pertama. Di sinilah terbentuknya tahap awal proses sosialisasi dan perkembangan individu. Dasar-dasar kelakuan pada anak tertanam sejak dari lingkungan keluarga, juga sikap hidup dan kebiasaannya karena pada prinsipnya keluaragalah yang menjadi tumpuan utama pembentukan kepribadian dan mental anak. Bentuk keluarga yang  paling sederhana adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak yang biasanya hidup dalam satu tempat tinggal.[24]
Pendidikan agama yang diterima anak akan menjadi dasar pendidikan anak berikutnya dan merupakan sumber yang memberikan dasar-dasar ajaran bagi seseorang. Kehidupan dan pergaulan dalam lingkungan keluarga diliputi oleh rasa kasih sayang diantara anggota keluarga. Jika di dalamnya terdapat saling percaya mempercayai dan bantu membantu dan kasih mengasihi sesamanya. Sehingga kebahagiaan dan ketenanga dalam rumah tangga baru bisa tercapai, apabila orang tua tidak dapat menciptakan kehidupan yang rukun dan damai, karena kurang serasinya hubungan dalam keluarga memberi pengaruh terhadap perkembangan anak.
Kondisi lingkungan keluarga mempunyai nilai-nilai pada diri orang tua yang senantiasa mewrnai kepribadian anaknya, misalkan orang yang sering meninggalkan ibadah shalat dan puasa maka anak akan berbuat demikian pula.[25] Oleh karena itu orang tua harus mendidik anak-anaknya dan harus dimulai dari sikap dan perbuatannya sendiri.
2)        Lingkungan Sekolah
Sekolah sebagai lemba pendidikan formal, yang terdiri dari guru (pendidik) dan muri-murid (anak didik). Antara mereka sudah tentu  terjadi adanya saling hubungan, baik hubungan antar guru dengan guru, guru dengan nurid, maupun antara murid dengan murid lainnya.
Guru sebagai pendidik, dengan wibawanya dalam pergaulan membawa murid-murid sebagai anak didik kearah kedewasaan, memanfaatkan atau menggunakan pergaulan sedan hari-hari dalam pendidikan adalah cara yang paling baik dan efektif dalam pementukan pribadi dan dengan cara ini pulalah hilang jurang pemisah antara guru dengan murid.
            Selanjutnya tentu hubungan timbal balik juga terjadi antara siswa dengan siswa di sekolah, dikarenakan mereka yang berada di dalam  suatu lembaga pendidikan (sekolah). Interaksi terjadi dalam proses belajar mengajar, dalam keorganisasian maupun dalam pergaulan di luar sekolah maupun dalam sekolah.
Penulis pikir bahwa segala sektor yang ada di lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan dan perkembangan anak didik, jika pengaruh yang diberikan positif maka hasilnya akan positif pula. sebaliknya jika pengaruh yang diberikan adalah negatif maka hasilnya akan berdampak negatif pula.
3)        Lingkungan Masyarakat
Masyarakat merupakan temapt pergaulan sesama manusia dan merupakan lapangana pendidikan yang luas dan meluas, yaitu hubungan antara dua orang atau lebih yang tidak terbatas.[26] Pergaulan sehari-hari natar anak dengan anak dalam masyarakat juga ada setaraf dan ada juga dengan yang lebih dewasa di bidang tertentu. Teguran anak yang lebih dewasa terhadap terhadap anak yang nakal, yang jorok, yang melakukan perbuatan berbahaya dan sebagainya.
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup ditengah-tengah masyarakat. Dimasyarakat terjadi hubungan antara satu dengan yang lainnya, dalam bentuk pergaulan, masing-masing saling berinteraksi saling give and take dan bahkan berhubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Maka dari itu pembentukan akhlak seseorang juga dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat yang ada disekitarnya. Idealnya untuk membentuk generasi yang berakhlakkul karimah harus berada dalam lingkungan yang baik pula. karena kondisi lingkungan masyarakat ayang beragam amak solusinya adalah menanamkan nilai-nilai akhlak yang diberikan oleh orang sejak usia dini, serta pengontrolan yang berksinambungan yang diberikan oleh orang tua dalam memandu perkembangan anak-anaknya.
5.      Tujuan pendidikan Akhlak
Manusia untuk memperoleh arti hidup yang hakiki, dimana kebahagiaan merupakan dambaan setiap orang, baik sebagai pedagang, pegawai, petani, dan sebagainya dengan usaha dan pekerjaan masing-masing. Tujuan akhir dari aktivitas-aktivitas manusia dalam hidup dan kehidupannya adalah untuk mewujudkan kebahagiaan.
Tujuan pendidikan akhlak adalah sebagai berikut:
a.       Supaya terbiasa melakukan yang baik, indah, mulia, terpuji serta menghindari yang buruk, hina, dan tercela.
b.      Supaya hubungan manusia dengan Allah Swt dan dengan sesama makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonnis.
Dengan membiasakan anak-anak bertingkahlaku sopan dan baik, maka individu akan tumbuh dan berkemabng sesuai dengan tuntunan kebenaran dan kesusilaan. Ia akan memperoleh keselamatan dan menyelamatkan orng lain dari kehancuran moral. Sebagaiman aungkapan Al-Ghazali yang dikutip oleh Zainuddin:
Apabila anak dibiasakan untuk mengamalkan apa-apa yang baik serta diberikan pendidikan, maka ia akan tumbuh diatas kebaikan tadi, ia akan selamat sentosa di dunia dan di akhirat. Kedua orang tuanya dan pendidik akan mendapat pahalanya. Sebaliknya jika anak itu sudah dibiasakan mengerjakan keburukan semenjak kecil dan dibisaarkan begitu saja tanpa dihiraukan, maka akibatnya anak itu akan celaka dan rusak binasa akhlaknya, sedang dosa utama tentulah dipikul  kepada kedua orang tuanya, pendidik yang bertanggung jawab untuk memelihara dan mengasuhnya.[27]

Dari ungkapan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan pembinaan akhlak tersebut adalah membiasakan anak-anak berbuat sesuai dengan aturan yang benar agar dapat tumbuh dan berkembang di atas kebaikan pada setiap fase kehidupan yang dialaluinya.
Orang yang berkhlak karena ketakwaan kepada Allah semata-mata, dapat menghasilkan kebaikan, antara lain:
a.    Mendapat temapat yang baik di dalam masyarakat.
b.    Akan disenangi orang dalam pergaulan.
c.    Akan dapat terpelihara dari hukuman yang sifatnnya manusiawi dan sebagai makhluk yang diciptkan oleh Allah Swt.
d.   Orang yang bertaqwa dan berakhlak akan mendapat kemudahan dan pertolongan dalam memperoleh keluhuran, kecukupan, dan sebutan yang baik.
e.    Jasa manusia yang  berakhlak mendapat perlindungan dari segala penderitaan dan kesukaran.[28]
Dengan bekal ilmu akhlak orang dapat mengetahui batas mana yang baik dan batas mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan tmpatnya.
B.     Langkah-langkah Pembinaan Akhlak Menurut Pandangan Islam
Kalangan remaja dewasa ini dijangkiti oleh kebaiasaan kerusakan moral dan etika seperti bolos sekolah, minuman kerasa, kecanduan ectasy (XTC), kokai dan morfin, kesukaan akan judi, ditambah lagi dengan cara dan corak pergaulan remaja yang terlebih lagi dengan lawan jenis yang semuanya berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Perilaku tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa. Kondisi sepeti ini telah memberikan penilian dan interpretasi yang buruk terhadap dunia pendidikan yang memunculkan banyak pertanyaan yang mesti dijawab dengan solusi cerdas agar bisa mengeluarkan dan membina remaja dari kekhawatiran terhadap kondisi generasi penerus agama dan bangsa.
Remaja akan menjadi aktor utama pada dunia pedaban selanjutnya, karena itu generasi muda (remaja) harus dibina dengan nilai-nilai agama dan budaya yang kuat yang bintikan nilai-nilai akademik yang relevan dengan realita kemajuan era globalisasi dewasa ini. Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan olek kekuatan budayanya. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan himpunan masyarakat yang memiliki kapasitas berkemampuan mempersatukan potennsi yang ada. Perkembangan uuntuk masa yang akan datang banyak ditentukan oleh remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna mengerakkan kelanjutan survival kehidupan kedepannya. Kecemasan penyimpangan perilaku kemunduran moral dan akhlak, kehilangan kendali para remaja, sepatutnya menjadi kerisauan semua pihak. Ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja. Analisa realitas objektif menunjukkan bahwa tidak seluruhnya remaja rusak.
Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama atau pengamalan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik, melahirkan tatanan hidup masyarakat yang tidak baik. Untuk mengatasi tatanan masyarakat yang tidak perlu adanya jihad. Allah Swt berfirman, Q.S. al-Hajj ayat 78:
(#rßÎg»y_ur Îû «!$# ¨,ym ¾ÍnÏŠ$ygÅ_ 4 uqèd öNä38u;tFô_$# $tBur Ÿ@yèy_ ö/ä3øn=tæ Îû ÈûïÏd9$# ô`ÏB 8ltym 4 s'©#ÏiB öNä3Î/r& zOŠÏdºtö/Î) 4 uqèd ãNä39£Jy tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# `ÏB ã@ö6s% Îûur #x»yd tbqä3uÏ9 ãAqߧ9$# #´Îgx© ö/ä3øn=tæ (#qçRqä3s?ur uä!#ypkà­ n?tã Ĩ$¨Z9$# 4 (#qßJŠÏ%r'sù no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨9$# (#qßJÅÁtGôã$#ur «!$$Î/ uqèd óOä39s9öqtB ( zN÷èÏYsù 4n<öqyJø9$# zO÷èÏRur 玍ÅÁ¨Z9$# ÇÐÑÈ
Artinya: Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.
Generasi muda Islam harus tampil dengan citra ibadahnya yang kokoh dan serta istiqomah dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Allah Swt berfirman, Q.S. al-Hajj ayat 41:
tûïÏ%©!$# bÎ) öNßg»¨Y©3¨B Îû ÇÚöF{$# (#qãB$s%r& no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨9$# (#rãtBr&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ (#öqygtRur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# 3 ¬!ur èpt6É)»tã ÍqãBW{$# ÇÍÊÈ
Artinya:  (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
                
Proses pembinaan umat dengan mengukuhkan kecintaan kepada negeri, memperkaya potensi diri dan menjauhkan isolasi diri, dan memupuk kamandirian sesuai bimbingan agama, amar makruf nahi munkar. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua, ibu bapak dan unsur masyarakat secara efektif dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dengan tradisi luhur dann akidah kepada generasi yang akan datang.
Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam, memperkaya warisan budaya dengan mengikuti dan mempertahankan, istiqamah pada agama yang dianut, teguh politik, ekonomi, melazimkam musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Ketahanan umat bangsa terletak pada kekuatan ruhaniah keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan dari langit dan bumi. Allah Swt berfirman, Q.S. al-A’raaf ayat 96:
öqs9ur ¨br& Ÿ@÷dr& #tà)ø9$# (#qãZtB#uä (#öqs)¨?$#ur $uZóstGxÿs9 NÍköŽn=tã ;M»x.tt/ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur `Å3»s9ur (#qç/¤x. Mßg»tRõs{r'sù $yJÎ/ (#qçR$Ÿ2 tbqç7Å¡õ3tƒ ÇÒÏÈ
Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”
Dapat dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniah spritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat, dan hubungan ini akan lebih lama bertahan daripada ubungan struktural fungsional. Individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai iman dan taqwa yang diapdukan dengan bekerja sam adisiplin dan gigih serta memiliki vitalitas tinggi, berjiwa inovatif dengan motifasi yang bergantung pada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah. Generasi yang ptuh kepada Allah akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusiaan di segala sektor, sosial, ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, agama, politik, dan seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menhasilkan suatu masyarakat idaman (khaira ummatin) melalui penjelmaan nilai bukan pendangkalan.
Pendidikan moral generasi berkapasitas tauhid, akhlak, penghormatan terhadap orang tua, mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan, adab percakapan ditengah pergaulan, keteguhan memilih dan mengamalkan nilami-nilai amar makruf nahi munkar, yang akan menjadi kekuatan moral. Kuatnya iaman dan teraturnya ibadah generasi muda menjadi langkah awal menuju ketahanan bangsa. Allah Swt berfirman, Q.S. Lukman ayat 16-17:
¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
Artinya:  (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Model yang dikembangkan pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, ketajaman visi, perubahan melalui ishlah dengan mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar benar kasih sayang melalui pengamalan warisan spritual religi. Proses pembangunan sumber daya manusia (SDM)  yang mesti ditempuh, yaitu:
1.      Tahap kesadaran tinggi ( to create the high level awareness), kesadaran tentang perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorng terbangunnya proses pengupayaan ( the process of empowerment).
2.      Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah, terencana mewujudkan kesinambungan dan minat (motvasi) dan cinta kepada iptek, keterampilan dan pemantapan siyasah. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital, walaupun kenyataannya sering lepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen beru yang meransang.
3.      Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu pembentukan kualitas pendidik (murabbi) yang dari awal mendapatkan pembinaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukab utopis.
4.      Menguatkan solidaritas persaudaraan beralaskan pijakan iman dan adat istiadat luhur meng-interpretasi-kan “nan kuriak iyolah kundi nan merah iyolah sago, nan baiak iyolah budi nan indah iyolah budi” dalam upaya intensif menjauhi kehidupan materialistis sebagaiman disebutkan dalam tambo adat Minangkabau “dahulu rabab nan batangkai kini lagundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini piti nan paguno”.
5.      Memperkuat kesepahaman dalam memelihara hubungan-hubungan spiritual (aqidah, keyakinan agama) dan emosional (adat, tamaddun, istiadat luhur) dibingkai ukhwah kokoh akan mengahsilkan energi ruhanik selama tidak dicabi-cabik pergeseran beralihnya kedamaian kepada benci. [29]
Hal-hal yang biasa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:
1.      Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri biasa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang memperbaiki dir setelah sebelumnya gagal pada masa ini.
2.      Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
3.      Kemauan orang tua untuk membenahi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
4.      Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
5.      Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
C.     Pembinaan Akhlak Remaja Menurut Pandangan Islam
Dalam pembinaan akhlak remaja, peranan keluarga sangat penting, artinya pembinaan yang diberikan orang tua meliputi semua aspek sejak anak dalam kandungan sampai anak lahir dan dilanjutkan ke masa pertumbuhan dan perkembangan anak. Di samping itu perlu disadari bahwa pribadi dan pembinaan akhlak itu terjadi melalui semua pengamalan hidup melalui penglihatan, pendengaran, dan pengalaman yang diterimanya atau pendidikan dalam arti luas.
Untuk dapat melaksanakan upaya penyiapan remaja bagi masa depan mereka, tidak dapat dilepaskan dari peran orang tua sebagaimana yang diungkapkan bahwa problem terbesar remaja adalah kurangnya pengertian orang tua terhadap problem tersebut. Orang tua seringkali membayangkan bahwa anaknya yang patuh dan penurut tiba-tiba jadi keras kepala dan tidak mau mengindahkan perintah orang tua lagi. Orang tua memaksa anak untuk menanggung segala tekanan dan perintah, walupun anak telah lebih tinggi badannya dari mereka. Banyak orang tua yang tidak mengerti perkembangan yang dilalui anaknya pada masa remaja itu.[30]
Masa remaja adalah masa peralihan diantara masa anak-anak dan masa dewasa. Dimana anak-anak mengalami pertumbuhan yang sangat cepat di segala bidang. Mereka bukan lagi anak-anak, baik dari cara bersikap, cara berfikir, dan tingkah laku, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Di dalam Islam pembinaan akhlak terhadap remaja dewasa ini sangat perlu menjadi perhatian semua pihak, karena para remaja telah banyak dihinggapi kemerosotan moral atau akhlak. Kemerosotan akhlak remaja itu disebabkan beberapa faktor :
1.      Kurang tertanamnya jiwa agama pada tiap-tiap individu dalam masyarakat.
2.      Keadaan masyarakat yang kurang stabil, baik dari segi ekonomi, sosial, dan politik.
3.      Pendidikan moral tidak terlaksana sebagaimana mestinya, baik di rumah tangga, sekolah, maupun di tengah-tengah masyarakat.
4.      Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5.      Diperkenalkannya secara obat-obatan dan alat-alat anti hamil.
6.      Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran kesenian yang kurang baik yang tidak mengindahkan dasar-dasar dan tuntutanan moral.
7.      Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu-waktu luang dengan cara yang baik, dan membawa ke arah pembinaan moral.
8.      Kurangnya organisasi atau perkumpulan yang bisa memberikan penyuluhan dan bimbingan bagi anak-anak dan remaja.
Upaya peminaan akhlak remaja dalam mengatasi kenakalan remaja dapat dilakukan beberapa sebagaimana yang dikemukakan oleh Abuddin Nata sebagai berikut:
Pertama, para remaja harus diingatkan tentang nasib masa depannya yang akan datang, masa depannya sangat tergantung pada upaya dirinya sendiri dan bukan orang lain. Dan dengan diinginkan itu maka para remaja akan tekun belajar, menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menghancurkan masa depannya, seperti berbuat zina, minum-minum keras, memakai obat-obatan terlarang, berfoya-foya dan sebagainya.
Kedua, para remaja harus di dekatkan pada agama dengan tekanan pada iman dan taqwa kepada kepada Allah Swt. Dimana hal ini akan dapat mengontrol remaja untuk tidak melakukan perbuatan dosa, karena perbuatannya itu akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat nanti.
Ketiga, para remaja harus di tantang dengan berbagai aktifitas yang sangat berguna bagi kehidupannya di masa depan, seperti mengembangkan bakat dan minatnya, mempelajari keahlian tertentu dan sebagainya.
Keempat, para remaja harus diberikan contoh dan tauladan yang baik dari kedua orang tuanya, pimpinan dan tokoh masyarakat, lingkungan sosial dan sebagainya. Dengan cara demikian para remaja berada dalam situasi yang menyebabkan ia selalu berada dalam bingkai perbuatan yang baik.[31]
Pembinaan akhlak yang baik dan terpuji dengan langkah-langkah dan sikap seperti yang dikemukakan di atas harus dilaksanakan oleh orang-orang yang mempunyai syarat, sifat-sifat dan tanggung jawab terhadap pembinaan akhlak. Agar hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun dalam memberikan pembinaan ini tentunya tidak mungkin  hanya sekedar memberikan pengertian, perlu diikuti oleh pembiasaan dan latihan-latihan mengerjakan akhlak yang baik dengan harapan nanti bisa menjauhi sifat-sifat tercela, “apabila si anak di biasakan untuk mengamalkan apa-apa yang baik, pastilah ia di atas kebaikan dan akhirnya ia akan selamat sentosa di dunia dan akhirat.[32]
Dalam mendidik anak pada usia remaja terutama pada masa awal anak memasuki masa remaja yang berkisar pada usia 12-15 tahun, orang tua harus mengambil sikap sebagai berikut:
1.      Mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja yang sedang puber dengan melakukan pengamatan.
2.      Mengajarkan mereka agar pergi ke masjid sejak usi kecil sehingga memiliki disiplin naluriah dan andil yang potensial oleh lingkungan rabbaniah.
3.      Menanamkan rasa percaya diri pada mereka dan siap mendengarkan pendapat-pendapat mereka.
4.      Menyarankan agar menjalani persahabatan dengan teman-teman yang baik.
5.      Mengembangkan potensi mereka pada semua bidang yang bermanfaat.
6.      Manganjurkan mereka agar terbiasa melaksanakan puasa sunnat karena hal itu dapat menjadi perisai dari kebobrokan moral.
7.      Membuka dialog dan menyadarkan mereka akan status sosial mereka.
D.    Tugas dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pembinaan Akhlak Remaja
Dalam pembinaan akhlak remaja, peranan orang tua sangat penting sekali karena pembinaan itu berarti pembinaan seluruh aspek dari kehidupan mereka, terutama pembinaan pribadi yang dimulai semenjak anak lahir, bahkan semenjak dalam kandungan.
Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam rangka pembinaan akhlak remaja, yaitu:
1.    Mendidik anak agar mampu membaca Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw yang mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat manusia agar menjadi orang yang bertaqwa. Kemudian Al-Qur’an itu diturunkan agar dapat dijadikan sebagai petunjuk dan pegangan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Ajaran-ajarannya ditunjukkan kepada manusia seluruhnya, baik kepada kaum yang masih primitif, maupun yang telah mencapai peradaban dan kebudayaan yang tinggi. Allah Swt berfirman, Q.S. al-Baqarah ayat 2:
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ
Artinya: Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. [33]

            Setiap mukmin yakin Al-Qur’an termasuk amal yang paling mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan bagi orang yang jiwanya gelisah.
            Belajar Al-Qur’an itu hendak dimulai dari kecil, mulai dari umur 5 tahun atau 6 tahun, sebab dalam usia itu anak sudah mengenal bahasa. Kesempatan ini baik digunakan untuk memndidik anak membaca, apalagi membaca Al-Qur’an. Memndidik anak membaca Al-Qur’an adalah kewajiban orang tua masing-masing, walaupun kebanyakan orang tua menyerahkan pada TPQ/TPSQ dalam rangka membina anak untuk bisa baca tulis Al-Qur’an, namun orang tua masih dituntut untuk mengawasi anaknya.
2.      Membina ubudiyah anak sehari-hari
Membina ubudiyah anak sehari-hari merupakan kewajiban orang tua yang harus dilakukan sejak dini, dan kewajiban yang akan dilaksanakan itu sesuai dengan tingkay umur dan perkembangan anak, tahap awal dimulai dengan pembiasaan, tahap berikutnya dilakukan dengan latihan.
3.      Membina akidah anak atau remaja
Tingkah laku yang baik adalah kunci keberhasilan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Orang yang berhasil dalam hidupnya adalah apabila dia mampu membina hubungan yang baik atau kontiniu, baik horizontal maupun vertikal yang dimaksud adalah manusia dengan Allah Swt dan hubungan manusia dengan sesama.
Najib Khalil al-Amin seperti yang dikutip oleh Ramayulis menyebutkan bahwa dalam mendidik anak pada usia remaja, orang tua harus mengambil sikap sebagai berikut:
1.         Mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja yang sedang puber dengan melakukan pengamatan.
2.         Mengajarkan mereka agar pergi ke masjid sejak usi kecil sehingga memiliki disiplin naluriah dan andil yang potensial oleh lingkungan rabbaniah.
3.         Menanamkan rasa percaya diri pada mereka dan siap mendengarkan pendapat-pendapat mereka.
4.         Menyarankan agar menjalani persahabatan dengan teman-teman yang baik.
5.         Mengembangkan potensi mereka pada semua bidang yang bermanfaat.
6.         Manganjurkan mereka agar terbiasa melaksanakan puasa sunnat karena hal itu dapat menjadi perisai dari kebobrokan moral.
7.         Membuka dialog dan menyadarkan mereka akan status sosial mereka.
Orang tua sebagai pendidik utama dan pertama hendaklah membentuk kepribadian anak, cita-cita yang tinggi dan akhlak yang mulia. Adapun peran orang tua terhadap anaknya, Umar Hasyim mengemukakan sebagai berikut:
1.        Memberi nama yang baik.
2.        Berakikah pada hari ketujuh dari hari kelahirannya.
3.        Mengkhitankan anak.
4.        Membaguskan akhlaknya.
5.        Mengajarkan baca tulis Al-Qur’an.


[1] Rachmat Djatmika, Sistem Etika Islam (Akhlak Mulia), (Surabaya : Pustaka Islam, 1987), h. 25
[2] Sidik Tono dkk, Ibadah Akhlak dalam Islam, (Yogyakarta : Press, 2003), h. 86
[3] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin Juz III, (Jakarta: CV Faizan, 1984),h.5
[4] Zakiah Drajat, Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jkarta: Ruhama, 1995),  h. 10
[5] Sidik Tono, Op. Cit, h. 23
[6] Yatimi Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta : Amzah,  2007),h. 4
[7] Ibid, h. 90

[8] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000), Cet. Ke-3, h. 145
[9] Zahruddin dkk, Pengantar Tasawuf, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 7
[10] Hamzah Yakub, Etika Islam, (Bandung : CV Diponegoro, 1993), h. 95
[11] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta : LIPII Pustaka Pelajar Offset, 1999), h. 6
[12] Ismail Tahib, Rislah Akhlak, (Yogyakarta: Bina Usaha, tth), h. 29
[13] Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992),h. 19
[14] M. Fuad Nasar, Agama di Mata Remaja, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), h. 25
[15] Al-Hakim, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: CV Asy-Syifa’, 1998), h. 227
[16] Ad-Darimi, Musnad Sunan Darimi, (Indonesia: Maktabah Dahlan, 1984), Jilid II, h. 323
[17] Zainuddin dkk, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 97
[18] Zainuddin dkk, Ibid, h. 98
[19] Zainuddin dkk, Ibid, h. 26
[20] Yatimi Abdullah, Op.Cit, h. 8687
[21] Ahmad Amin, Etika Ilmu Akhlak, (Jakarta : Bulan Bintang, 1998), h. 24-28
[22] Hamzah Ya’qub, Op.Cit, h. 57
[23] Yatimi Abdullah, Op.Cit, h. 89-90
[24] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), h. 147
[25] Abu Ahmad, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta 2003), h. 26
[26] Abu Ahmadi dkk, Op.Cit, h. 27
[27] Zainuddin dkk, seluk Beluk Pendidikan dari  Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 106
[28] Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2005), h. 26
[29] http//.buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/-_ftnref
[30] Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Grasindo, 2001), h. 282
[31] Abuddin Nata, Op. Cit, h. 286
[32] Muhammad Abdul Rathoni, Bimbingan untuk Mencapai Tingkat mukmin, (Bandung: Diponegoro, 1986, h. 254
[33] Mahmud Yunus, Terjemahan Al-Qur’an Karim, (Bandung: Al-Ma’rif, 1990), h. 58

1 comment: